Kamis, 05 Maret 2015

Museum Mayat di Berlin

Barangkali ini akan menjadi museum teraneh di dunia. Sebuah museum dengan koleksi mayat yang dikuliti dan diawetkan, yang digagas oleh suami-istri Gunther von Hagens dan Angelina Whalley, baru saja dibuka pada Rabu (18/2). Cukup menarik, tapi siapkan adrenalin untuk mengunjungi musem mayat di Berlin ini!
 
Bagi yang mengenal Gunther, inisiatifnya mendirikan museum mayat ini mungkin sesuatu yang aneh. Pria yang dijuluki sebagai Dr Death alias “dokter kematin” ini sebelumnya pernah mengadakan pameran kontroversial bertajuk “Body Worlds” dengan cara berkeliling dunia sejak 1995 dan menarik sekitar 40 juta pengunjung.

Jika sebelumnya Gunther dan istri harus bekeliling dunia untuk memamerkan “karyanya”, maka museum mayat di Berlin ini akan menjadi galeri permanennya. Museum ini terletak di depan menara televisi Berlin di Alexanderplantz, yang luasnya mencapai 1.200 meter persegi.

Saat ini, di dalam museum mayat itu terdapat 20 mayat yang dikuliti sehingga tampak otot, organ, pembuluh darah, dan tulang. Sebelumnya, mayat-mayat itu disuntik dengan karet silikon dan resin—dikenal dengan proses “plastinasi”—supaya tetap awet. Koleksi-koleksi itu disusun dalam posisi laiknya manusia hidup: duduk, peregangan, dan melakukan olahraga.

Sementara itu Whalley mengatakan, dengan mendatangi pameran, pengunjung akan mendapatkan perspektif baru pada tubuh dan gaya hidup. “Beberapa orang mengatakan bahwa mereka tidak akan menyepelekan tubuh mereka lagi,” katanya seperti yang dikutip dari Reuters.

Dalam survei yang dilakukan terhadap pengunjung enam bulan setelah mengunjungi pameran tersebut membuktikan, 9% telah berhenti merokok, 23 persen melakukan lebih banyak olahraga, dan 30 persen makan lebih sehat. Berkunjung ke museum tersebut ternyata berpengaruh terhadap pola hidup manusia.

Meski demikian, tidak semua orang mendukung keberadaan museum mayat itu. Pemerintah Daerah setempat menganggap bahwa pameran itu melanggar undang-undang pemakaman lokal dan larangan memamerkan tubuh. Pemda juga mencoba untuk melarang pameran tersebut pada Oktober tahun lalu, tapi Gunther berhasil memenangkan perkara tersebut.

Detlef von Wagner, 61, menganggap pameran di museum mayat ini sebagai bagian dari karya seni. Ia juga setuju jika suatu saat tubuhnya diplastinasi, tentu saja setelah ia meninggal. Menurutnya, ia tidak ingin hanya membusuk atau terbakar. “Plastinasi adalah seni. Orang-orang membayar untuk melihat tubuh Anda di sebuah pameran.” (Intisari-Online.com)