Sabtu, 14 Maret 2015

EF Typhoon Penggganti F-5 TNI AU ?



Konsorsium EuroFighter semakin bernafsu menawarkan pesawat tempur EF Typhoon sebagai pengganti F-5 TNI AU yang sudah menua. EuroFighter  menyakinkan Indonesia bahwa EF Fighter adalah pesawat tempur terbaik yang bisa memenuhi kebutuhan angkatan udara Indonesia untuk 30 tahun kedepan. Bahkan EuroFighter bersedia memberikan sejumlah transfer of technology termasuk membantu project KFX/IFX jika pesawat tempur EF Typhoon dipilih sebagai pengganti F-5 TNI AU.

Seperti berita yang dilansir oleh TheJakartaPost.com beberapa waktu lalu, dutabesar Spanyol untuk Indonesia menegaskan bahwa tawaran pesawat tempur EF Typhoon adalah pilihan yang terbaik bagi Indonesia karena beberapa hal, diantaranya adalah memiliki mesin dengan life cycle panjang yang bisa digunakan puluhan tahun kedepan. Dibandingkan dengan pesawat tempur buatan Rusia, mesin pesawat tempur EF Typhoon ini disebutkan memiliki life cyle yang lebih panjang sehingga dalam jangka panjang EF Typhoon akan memiliki life cycle cost yang lebih murah.

Lebih lanjut dutabesar Spanyol untuk Indonesia juga menyebutkan hal lain yang menjadi keunggulan pesawat tempur EF Typhoon adalah jangkauan radius tempurnya yang lebih luas dibandingkan pesaing lain seperti SAAB Gripen membuatnya mampu menjaga seluruh luas wilayah Indonesia dengan 2 pangkalan udara yang diisi skuadron pesawat tempur EF Typhoon.

Namun sisi menariknya adalah tawaran transfer of technology dari konsorsium EuroFighter kepada project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX yang diikuti Indonesia bersama Korea Selatan. Tawaran ToT ini tentunya merupakan sebuah nilai plus bagi EuroFighter dimata Indonesia. Sebenarnya isu ini bukan isu baru karena tahun lalu pun PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sudah memberikan sinyal bahwa mereka mendukung pemerintah membeli pesawat tempur EF Typhoon. Dukungan PT DI ini didengungkan karena melihat adanya kemungkinan untuk memperoleh sejumlah transfer of technology dari kesepakatan pembelian pesawat tempur EF Typhoon oleh Indonesia. Selain isu ToT untuk project KFX/IFX, EuroFighter juga menawarkan ‘produksi lokal’ pesawat tempur EF Typhoon pesanan Indonesia.

Tawaran ToT untuk Project Pengembangan Pesawat Tempur KFX/IFX.
Tawaran transfer of technology bagi project KFX/IFX ini memang cukup menarik untuk dicermati. Hal ini karena Airbus yang juga termasuk salah satu anggota konsorsium EuroFighter juga ikut dalam tender kontraktor utama project KFX/IFX ini. Airbus Military digandeng oleh Korean Airlines (KAL) untuk bersaing dengan Korean Aerospace Industries (KAI) yang menggandeng Lockheed Martin. Ini berarti jika Indonesia memilih pesawat tempur EF Typhoon sebagai pengganti F-5, maka memungkinkan adanya perjanjian timbal balik agar Airbus Military sebagai anggota konsosoriun EuroFighter memberikan bantuan terhadap project KFX/IFX ini. Ini berarti tidak hanya dari sisi Korea saja, tapi dari sisi Indonesia pun Airbus Military memiliki ‘keterikatan’ untuk mendukung suksesnya project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX ini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tanggal 22 February 2015 lalu, Airbus dan Korea Airlines (KAL) sudah sepakat dan memutuskan untuk mengikuti tender (bidding) pemilihan kontraktor utama project KFX/IFX. Keterlibatan Airbus dalam tender ini akan membuat Korean Airline (KAL) memiliki secercah harapan bersaing dengan Korean Aerospace Industries (KAI) yang sudah menggandeng Lockheed Martin. Dari proposal tender yang sudah masuk, akan dilihat siapa yang menjadi unggulannya pada bulan Maret ini dan pemenangnya akan di umumkan pada pertengahan tahun ini atau sekitar Juni-Juli 2015.

Banyak pihak yang meragukan Korea Airline (KAL) akan mampu mengalahkan Korean Aerospace Industrie (KAI), mengingat pengalaman Korean Airline (KAL) masih kalah dari KAI yang sudah memiliki pengalaman yang baik dalam mengembangkan pesawat tempur latih T-50 Golden Eagle tahun 2002 lalu bersama Lockheed Martin. Namun kehadiran Airbus disisi KAL ini sedikit banyak akan menutupi kekurangan KAL dalam hal technology pengembangan pesawat tempur. Hal ini mengingat Airbus memiliki pengalaman panjang mengembangkan pesawat tempur EF Typhoon. Namun sejauh mana KAL dan Airbus bisa bersaing dengan KAI dan Lockheed Martin tentu masih menjadi pertanyaan.

Hal lain yang menambah nilai plus bagi Korean Airline (KAL) dan Airbus adalah kenyataan bahwa saingan mereka yang menggandeng Lockheed Martin memiliki keterbatasan dalam melakukan transfer of technology, mengingat Amerika memiliki peraturan yang ketat dalam memberikan teknologi militernya kepada negara lain. Sedangkan Airbus Military sendiri tidak terlalu terkekang dalam memberikan transfer teknologi kenegara lain.

Namun penulis memandang kesungguhan Airbus dalam membantu project KFX/IFX ini kedepannya masih perlu untuk dipertanyakan mengingat project ini akan menghasilkan pesawat tempur generasi 4.5 yang tentunya akan bersaing dengan pesawat tempur EF Typhoon yang tidak lain adalah produk konsorsium EuroFighter dimana Airbus termasuk didalamnya. Meski demikian, penjualan pesawat tempur EF Typhoon yang tidak terlalu menggembirakan bisa saja memacu mereka untuk membantu project KFX/IFX ini. Hal ini terlihat dari kesiapan mereka bergabung dengan Korean Airline (KAL) dalam tender kontraktor utama prject KFX/IFX ini.

Melihat hal ini, maka tawaran transfer of technology dari konsorsium EuroFighter kepada project KFX/IFX jika Indonesia membeli pesawat tempur EF Typhoon sebagai pengganti F-5 TNI AU bisa disebut adalah tawaran yang cukup bagus. Namun tentunya Indonesia mesti mempertimbangkan lebih jauh lagi agar rencana masa depan modernisasi militer Indonesia tidak terganggu.

Plus Minus EF Typhoon sebagai pengganti Pesawat Tempur F-5 Indonesia
Pertanyaannya sekarang adalah apakah pembelian pesawat tempur EF Typhoon sebagai pengganti F-5 bagus untuk Indonesia? Pertanyaan ini tentunya sulit untuk dijawab dengan mudah. Namun melihat dari beberapa sisi akan memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana baik dan buruknya jika Indonesia membeli pesawat tempur EF Typhoon sebagai pengganti F-5 TNI AU.

Dari segi harga akuisisi, tampaknya harga pesawat tempur buatan Eropa ini masih lebih mahal dibandingkan dengan kandidat pengganti F-5 lainnya seperti Su-35 BM dari Rusia. Namun dari sisi life cycle cost selama 30 tahun kedepannya, tampaknya pesawat tempur ini memiliki prospek yang cukup bagus mengingat mesin EJ-200 yang digunakannya memiliki life cycle yang lebih baik dibandingkan dengan mesin Saturn AL-41F1S milik Su-35 BM.

Dari segi teknologi pesawat tempur ini bisa disebut adalah salah satu pesawat tempur generasi 4+ yang tercanggih saat ini. Pesawat tempur EF Typhoon trance 3 dikabarkan sudah menggunakan radar Captor-E AESA yang sangat mumpuni. Pesawat tempur ini juga sudah mendukung berbagai misi pertempuran serta mendukung berbagai rudal-rudal canggih terbaru seperti rudal BVR Meteor yang mampu melumat sasaran dari jarak yang lebih jauh dari rudal Aim-120C AMRAAM. Dengan kemampuan seperti ini tentu akan memberikan efek gentar yang cukup baik sehingga Indonesia semakin disegani dikawasan.

Dari sisi lain rencana penyederhanaan tipe pesawat tempur TNI AU memang akan menjadi kendala bagi bergabungnya pesawat tempur EF Typhoon kedalam inventori alutsista TNI. Hal ini karena Indonesia belum pernah mengoperasikan jenis pesawat tempur ini sebelumnya. Namun sejatinya itu tidak terlalu masalah karena kandidat lain seperti F-16 Block 60, Su-35 BM dan Gripen E/F sendiri pun sejatinya adalah pesawat tempur yang benar-benar berbeda dengan semua pesawat tempur yang ada di Indonesia saat ini. Ditambah lagi kabar bahwa mesin EJ-200 yang digunakan pesawat tempur ini juga menjadi kandidat kuat mesin yang akan digunakan di project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX yang di ikuti Indonesia.

Konsorsium EuroFighter Bidik Pesawat Tempur Indonesia selain Pengganti F-5?
Melihat gelagat dari beberapa produsen pesawat tempur dunia seperti SAAB, EuroFighter, dan lainnya yang begitu getol menawarkan produknya ke Indonesia, tampaknya para produsen pesawat tempur ini tidak hanya mengincar pasar pengganti pesawat tempur F-5 Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia sendiri dikabarkan akan terus menambah kekuatan alutsista TNI termasuk pesawat tempur Indonesia. Tidak hanya berhenti di pengganti pesawat tempur F-5, tetapi modernisasi ini terus berlangsung.

Penulis mencermati sudah beberapa kali pejabat tinggi Indonesia yang menyebutkan bahwa akan ada lagi penambahan skuadron pesawat tempur Indonesia kedepannya selain pengganti F-5 TNI AU yang sudah tua ini. Apalagi juga ada sinyal bahwa Kohanudnas juga direncanakan memiliki pesawat tempur sendiri yang terpisah dari Angkatan Udara.

Melihat adanya peluang dimasa datang ini, maka sangat wajar sekali jika ada banyak produsen pesawat tempur dunia yang berlomba-lomba menawarkan produknya kepada Indonesia. Kita lihat di IDAM 2014 lalu dimana SAAB dan EuroFighter bagitu getol mempromosikan produknya di Indonesia. Dan saat ini bisa disebutkan bahwa program penggantian pesawat tempur F-5 adalah pintu masuk bagi mereka untuk mendapatkan pasar Indonesia kedepannya. Hal ini membuat produsen pesawat tempur dunia ini begitu getol untuk memenangkan persaingan untuk menjadi pengganti pesawat tempur F-5 Indonesia.

Semua sungguh asyik untuk di teliti lebih jauh, namun sekarang ini kita hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi di depannya. Apakah tawaran Eurofighter akan diambil Indonesia atau tidak, masih cukup sulit melihat kepastiannya. Kita doakan saja yang terbaik bagi Indonesia dan pemerintah mengambil langkah yang bijak