Selasa, 29 September 2015

Baret


Seneng kalau lihat orang pakai topi berupa BARET, kesannya gimana gitu.. Belakangan ini hampir semua unit di TNI saya lihat sudah punya baret khas satuannya. Kepraktisan baret telah lama membuatnya menjadi salah satu item pakaian seragam militer dan seragam lainnya.

Di antara beberapa contoh bersejarah terkenal adalah tentara Skotlandia, yang memakai topi biru pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas, Volontaires Cantabres, sebuah pasukan Perancis yang tumbuh di negara Basque pada tahun 1740-an hingga 1760-an, juga mengenakan baret biru, dan pemberontak Carlisme, dengan baret merah mereka, pada tahun 1830-an di Spanyol. Baru-baru ini, pada tahun 1950-an unit Pasukan Khusus Angkatan Darat AS mulai memakai baret hijau sebagai penutup kepala, yang secara resmi diadopsi pada tahun 1961 dengan unit tersebut menjadi dikenal sebagai "Green Berets", dan pasukan khusus tambahan di Angkatan Darat, Angkatan Udara AS dan pasukan lainnya juga mengadopsi baret sebagai tutup kepala khas.

Jumat, 18 September 2015

Ketakutan adalah musuh dalam selimut


Teks gambar di atas (supaya dapat diterjemahkan): Jalan keberhasilan ini adalah milik anda. Pada saat anda menyadari bahwa anda bertangung jawab penuh pada segala sesuatunya dan anda menemukan jalan anda sendiri. Di saat itulah anda menyadari kebebasan dan hilangnya ketakutan. Hanya anda yang mampu memikul hidup anda bukan orang lain. Bila anda menganggap hidup adalah suatu tugas, tunaikanlah. Bila anda menganggap hidup adalah beban, pikullah.  Bila anda menganggap hidup adalah harta karun yang tak terhingga, berbahagialah. Kerjakan yang terbaik dari diri anda. Tujuan hidup akan anda temukan saat anda menjalani perjalanan anda. Dan yang terpenting,  anda tak akan menemukan apa-apa bila diam tak melakukan sesuatu pun.

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Rabu, 16 September 2015

Tombol Dislike Tidak akan dihadirkan di FB !



Pertanyaan apakah akan ada tombol Dislike di Facebook terjawab sudah. Pekan lalu, pendiri Facebook Mark Zuckerberg menegaskan bahwa Facebook tidak akan membuat tombol Dislike. Namun ia juga mengatakan bahwa Facebook mempertimbangkan cara lain untuk membantu pengguna mengekspresikan emosinya selain dengan Like. Hmm, apa artinya akan ada tombol serupa Dislike ya?

Dalam “Q&A with Mark,” Zuckerberg mengatakan bahwa orang kadang-kadang membaca posting yang sedih atau topik-topik sensitif dan ingin meresponnya dengan sesuatu selain tombol Like. Facebook, tambahnya, sedang memikirkan cara untuk membantu pengguna melakukannya. Namun ia tidak memberikan detailnya.

Yang jelas, para pengiklan kurang suka dengan tombol Dislike yang bisa mempengaruhi tingkat penjualan. Para pengguna juga mengatakan bahwa tombol Dislike bisa dipakai sebagai sarana mem-bully di antara para remaja.

Tapi mungkin memang tidak perlu membuat semua percakapan menjadi tombol-tombol dan emotikon. Toh seperti ditunjukkan Zuckerberg, sudah ada sarana yang bagus untuk mengekspresikan pendapatmu di Facebook, yakni fitur Comment.

PP (photo profil) facebook bakal bisa berganti secara periodik


Sekarang fb sedang menguji fitur baru pada penyematan foto profil (profil picture/PP). Saya baca dari Nextren The Verge, pengguna bisa memilih "foto periodik" dan "foto permanen" untuk menampilkan diri di jejaring sosial tersebut. Hal ini juga untuk menanggapi banyaknya gerakan sosial atau isu massa yang bertebaran di internet. "Pengguna kerap menggunakan foto profil untuk mendukung satu isu, menggerakkan massa dan merayakan hari spesial. Makanya fitur ini kami kembangkan," kata perwakilan Facebook.

Senin, 14 September 2015

Tips belajar dari pengalaman

Sejak SD kita sudah sering mendengar ungkapan “Pengalaman adalah guru terbaik”. Biasanya, ungkapan ini muncul ketika kita mengalami sebuah kejadian ataupun peristiwa yang kemudian menuntut kita untuk merefleksikan kegagalan yang kita alami, mengambil pembelajaran atas pengalaman tersebut untuk tidak mengulanginya di lain waktu.
Masalahnya, apa proses-proses yang harus kita lewati untuk bisa belajar dari pengalaman. Mungkin sederhana saja, jika kita mengalami lagi peristiwa yang sama, kita cukup tidak melakukan lagi ‘kesalahan’ yang pernah kita lakukan. Apakah itu cukup?

Setidaknya ada 3 proses belajar dari pengalaman. Mulai dari mengalami, merefleksikan pengalaman, dan kemudian memodifikasinya. Bagi sebagian orang proses merefleksikan sebuah pengalaman bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mungkin, sangat mudah menjelaskan kronologis sebuah peristiwa yang menimpanya, namun tidaklah mudah ketika sampai pada pembelajaran yang didapatkan dari peristiwa tersebut. Biasanya, banyak orang terjebak dengan ‘dampak langsung’ dari sebuah kejadian atau peristiwa, sehingga pembelajaran yang dilihat tidak terlalu mendalam.


Misalnya, pembelajaran yang diperoleh A dari kegagalannya memenangkan lomba memasak nasi goreng, adalah kurang memperhatikan takaran garam yang tepat, sehingga masakan nasi gorengnya terlalu asin. Jika mendapatkan kesempatan mengikuti lomba memasak nasi goreng lagi, apa yang A akan lakukan? Respon cepat atas pertanyaan ini adalah A akan membuat takaran khusus garam, sehingga nasi gorengnya tidak ke-asin-an.

Apakah jika sudah mengenggam strategi itu, maka A akan terjamin ‘lepas’ dari kegagalan yang lain? Saya kira tidak. Potensi kegagalan dalam hal-hal yang lain tetap akan mengancam dan bisa terjadi kembali. Tentunya, ini bukan seperti itung-itungan matematis, jika kemarin A, hanya melakukan 1 kesalahan, maka pada percobaan berikutnya, ia cukup fokus pada kesalahan tersebut, agar tidak terulangi lagi.

Mengambil pemebelajara atas ke-asin-an nasi goreng tersebut tidak cukup hanya melihat dari faktor garam yang berlebih. Namun, sangat penting membawanya ke ranah yang lebih luas, dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis. Misalnya, Bagian mana dari proses memasak nasi goreng yang membuat A tidak memberikan takaran garam yang pas? Adakah hal-hal yang menggangu A ketika memasak? Apakah A memberikan porsi perhatian yang proporsional diantara setiap proses memasak yang dilakukan? Ataukah ada proses perencanaan yang kurang lengkap? Dengan memunculkan berbagai pertanyaan kritis tersebut, A memiliki gambaran yang lebih lengkap atas peristiwa yang dialami.

Dari sini, ketika mau menarik pembelajarannya, A akan memiliki lebih banyak pilihan solusi dan perspektif pembelajaran. Kira-kira refleksi pembelajarannya akan berbunyi seperti ini: “Nasi goreng yang ke-asin-an tidak hanya karena takaran garam yang terlalu banyak. Bagaimanapun, taburan garam ke dalam masakan, adalah bagian dari proses memasak secara keseluruhan. Sehingga, faktor-faktor lain dari proses memasak tetap harus menjadi perhatian. Mulai dari perencanaan, urutan memasukkan bumbu ke dalam masakan, konsentrasi dan fokus yang memasak, dan seterusnya.”

Jadi, ketika masuk ke dalam fase modifikasi, proses setelah refleksi atas pengalaman, A mempunyai keleluasaan untuk merekonstruksi proses memasak yang ia lakukan. Tidak melulu fokus pada ke-asin-an masakan, namun juga berpikir bagaimana mempertahankan performanya dalam mengeksekusi setiap proses memasak yang ia lakukan. Jangan sampai A terlena. Meskipun, satu pembelajaran atas kegagalan di masa lalu ‘tertutupi’, namun kegagalan memberikan perhatian dan fokus yang setara diantara semua proses yang ada, bisa menyebabkan munculnya ‘kegagalan baru’.

Untungnya, tidak ada yang salah dari sebuah pengalaman. Apapun pengalamannya, selalu ada pembelajaran yang bisa dipetik. Tentunya, kemampuan kita merefleksikan pengalaman yang kita alami sangat menentukan kualitas pembelajaran yang bisa kita ambil. Disinilah, ‘belajar dari pengalaman’ tidak akan bisa menjadi guru terbaik, jika kita tidak bisa memaksimalkan proses refleksi atas pengalaman yang kita alami, mengambil pembelajaran atasnya, dan memunculkan opsi-opsi untuk memodifikasinya menjadi pengalaman baru yang lebih kontekstual tentunya.