Sabtu, 17 Oktober 2015

Perbedaan antara Takdir dengan Nasib

Di media sosial kita sering membicarakan tentang TAKDIR dan NASIB. Sebagian orang kayaknya ada yang salah mengartikannya. Kata Pak Ustadz saya tentang beda takdir dengan nasib begini :

Takdir = ketentuan Tuhan yang tidak dapat dirubah.
Nasib = ketentuan Tuhan yang dapat dirubah.

Takdir seperti pengertian dasar di atas adalah ketentuan Tuhan, atau kehendak Tuhan yang tidak dapat dirubah. Contohnya : seseorang terlahir dengan Jenis Kelamin Laki-Laki. Ini merupakan salah satu Takdir Tuhan yang tidak dapat dirubah. Kalau kita pikir secara logika, ya…mana mungkin sepasang suami istri dapat menentukan anaknya dengan jenis kelamin Laki-laki atau perempuan. Jelas tidak mungkin.


Nasib merupakan ketentuan Tuhan yang dapat kita rubah. Tentunya dengan seIdzin Tuhan. Namun kebanyakan orang salah mengartikan, mereka beranggapan bahwa Nasibnya adalah Takdirnya (kesimpulan : jika nasibnya jelek, maka Tuhan yang disalahkan karena sudah memberikannya nasib yang jelek). Salah satu contoh tentang Nasib yaitu : “Jika pada saat kita dilahirkan di dunia ini dengan keluarga yang kurang mampu kondisi ekonominya, namun pada saat ini kita termasuk orang yang mampu/Kaya, maka itu adalah Nasib kita”.

Pertanyaannya : Siapakah yang menentukan Nasib kita?
Jawabannya : adalah Kita sendiri. Dalam ayat Alqur’an sudah dijelaskan yang kurang lebih artinya “Allah tidak akan merubah Nasib suatu Kaum melainkan mereka merubahnya sendiri”.

Mengapa demikian, karena Tuhan telah membekali kita hidup di Dunia ini dengan Kemampuan yang sangat luar biasa yaitu Tubuh(SDM). Seperti Tangan kita, otak, kaki, jari-jari manis kita, perasaan dll. Itulah mengapa Tuhan menyerukan kepada hambanya bahwa Manusia dapat menentukan Nasibnya sendiri.

Ada kisah bagus nih.

Pada suatu hari ada seorang pengemis dengan tubuh yang Alhamdulillah sehat, berAnggota tubuh yang lengkap. Namun kekuatan tubuhnya dia gunakan untuk meminta-minta. Pada waktu itu Pengemis itu sedang meminta kepada seorang mahasiswa yang sedang duduk-duduk di Warung kopi. Seraya berkata “Mas,,Minta sedekahnya….”..tanpa berpikir panjang si Mahasiswa tersebut langsung memberikan sedekahnya. Setelah sedekah diberikan kemudian mahasiswa ini bertanya kepada pengemis itu : "Pak,,Mohon maaf sebelumnya…kenapa Bapak tidak mencari pekerjaan lain aja….Bukankah apa yang bapak lakukan ini adalah perbuatan yang kurang baik?”

Kemudian pengemis itu menjawab :”Yaa bagaimana Lagi mas, memang Takdirnya begini, mungkin saya memang diTakdirkan Tuhan menjadi pengemis(Tuhan yang disalahin karena sudah ngasih takdir yang jelek)”.

Dari kasus dia atas, Orang itu beranggapan bahwa kehidupannya saat ini adalah kehendak Tuhan semata. Tanpa ada Usaha, tanpa ada pengorbanan untuk menjadi lebih baik. Dan tidak memanfaatkan apa yang diberikan Tuhan kepadanya berupa SDM yang sempurna ini, jadi kayaknya :

Nasib ---> bisa dirubah
Takdir ---> tidak bisa dirubah
Nasib ---> tidak melekat permanen pada seorang manusia
Takdir ---> sudah ada pada seorang manusia sejak lahir
Nasib ---> contohnya sudah berusaha belajar masih dapat nilai buruk
Takdir ---> contohnya sudah cantik, baik, lembut, tulus tetapi tidak / belum dapat jodoh. Atau dalam berumah tangga tidak harmonis sehingga bercerai (siratan takdir hehehe) Contoh lain: mati

Mudah-mudahan kita termasuk Orang yang bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Sehingga kita mampu mengoptimalkan SDM yang kita miliki untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama yaa..

Lihat juga :  Motivasi Kuat