Selasa, 07 April 2015

Menata Pikiran dan Hati


Kita sebagai makhluk sosial tentunya tidaklah imun atas apa yang ada disekitar kita, banyak hal yang mempengaruhi kita, masuk menusuk ke dalam alam pikiran dan pusat hati. Tapi, sebagai manausia yang diberi kemampuan untuk mengelola hati dan pikiran, kita tidak boleh tenggelam dalam keruwetan pikiran dan kegundahgulanaan hati. 

Menulis sebuah artikel saja, kita perlu menata hati dan pikiran agar tulisan yang dihasilkan mudah dicerna pembaca, dan yang paling penting bermanfaat. Artikel yang ditulis diharapkan menjadi bacaan yang menarik bagi semua pihak dan menjadi pengingat bagi saya serta pembaca. Saya juga sering membaca ulang artikel yang saya sudah tulis, karena bagi saya artikel tersebut adalah juga sebagai catatan yang sering perlu dibuka kembali.

Dalam kontek investasi, menata hati dan pikiran juga merupakan hal yang krusial. Hati kita sering terpengaruh oleh situasi dan kondisi di sekitar kita, oleh bacaan yang kita baca, oleh informasi yang kita terima, oleh permasalahan yang sedang menghampiri kita, dan lain-lain sebagainya. Suasana hati yang tidak normal, baik terlalu senang, terlalu sedih, terlalu berani atau terlalu takut, akan membuat keputusan investasi kita menjadi salah, alias kerugian akan segera menghampiri kita. Untuk itu, sebagai investor ataupun trader, harus berusaha sebisamungkin untuk menormal  suasana hati dia, agar terhindar dari kerugian.

Demikian juga dengan pikiran, pikiran kita sangat mudah terpengaruh oleh persepsi yang dibentuk orang lain, oleh analisa yang ditulis orang lain, dan lain-lainnya. Jika kita tidak bisa menjaga kenormalan pikiran kita, maka kita akan mengikuti apa yang dipikirkan, dianalisa atau ditulis orang lain, tanpa melakukan penganalisaan lebih lanjut. Kita beruntung jika orang lain tersebut benar, tapi kita akan menyesal jika ternyata mereka salah. Sehingga, agar kita tidak terjebak oleh kesalahan orang lain, maka kita perlu menjaga kenormalan pikiran kita dalam memutuskan suatu investasi.

Dalam investasi, kita perlu ingat bahwa resiko adalah menjadi tanggungjawab kita sendiri alias resiko ditanggung penumpang. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas kerugian yang kita alami, untuk itu, menata hati dan pikiran dalam memutuskan suatu investasi adalah sesuatu yang perlu dilakukan. Jika ternyata kita menyadari bahwa karena sesuatu kita belum bisa menata hati dan pikiran, maka lebih baik kita tidak membuat keputusan investasi apapun.

Dari pengalaman saya, berikut beberapa kondisi pelik yang sering muncul, yaitu :

1.Pikiran bulish tetapi hati bearish.

Situasi ini adalah pada saat dengan pikiran yang normal kita analisa  bahwa suatu saham sudah sangat murah, tetapi kondisi lingkungan kita sangat bearish sehingga hati kita juga ikut takut, padahal sering sekali, kondisi ini adalah waktu yang sangat tepat untuk membeli suatu saham dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya. Kondisi seperti ini kita perlu berjuang keras melawan kondisi lingkungan yang bearish agar tidak mempengaruhi suasana hati kita, sehingga hati tetap normal dan kita berani melakukan invetasi.

2.Pikiran bearish tetapi hati bulish

Situasi pada saat pikiran normal kita menganalisa bahwa suatu saham sudah mahal, tetapi kondisi lingkungan masih sangat bulish. Secara analisa pikiran normal kita harus segera menjual saham yang kita miliki tetapi kondisi lingkungan terlihat masih sangat banyak orang melakukan pembelian dalam jumlah besar dan bahkan ada informasi yang mengatakan saham masih akan naik tinggi, sehingga hati kita juga ikut bulish.

Padahal kondisi ini adalah saat yang tepat untuk melakukan penjualan saham yang kita miliki. Untuk itu, dalam menghadapi kondisi seperti ini, kita segera mengingatkan diri kita untuk menormalkan suasa hati kita agar tidak terjebak dengan kondisi lingkungan.
Pengandalian hati dan pikiran, sekali lagi, bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan banyak belajar dari pengalaman orang lain, dari buku-buku investasi, dll.nya, akan mempermudah kita untuk bisa melakukannya.