Senin, 06 April 2015

Hidung Mancung tanpa Silikon


Hidung yang mancung biasanya menjadi idaman setiap perempuan. Banyak pemilik hidung pesek yang merasa kurang percaya diri. Karena itu, mereka memilih menjalani operasi. Yakni, dengan rhinoplasty. Sebuah tindakan bedah plastik untuk mengoreksi bentuk hidung. Peminatnya pun semakin banyak.
 
"Setiap bulan paling tidak ada lima sampai enam orang," ujar dr Iswinarno Doso Saputro SpBP (RE).
Dokter spesialis bedah plastik itu mengatakan, saat ini ada teknik baru rhinoplasty. Yakni, tidak menggunakan implan, tapi memakai tulang hidung pasien sendiri. Tindakan mutakhir itu disebut open rhinoplasty, menata ulang struktur tulang rawan hidung. Artinya, hidung dimancungkan dengan tulang hidung pasien sendiri. 

Menurut dia, selama ini operasi hidung dengan implan berupa silikon lebih ngetren. Biasanya silikon yang digunakan berbentuk padat. Implan tersebut dimasukkan ke dalam hidung untuk menambah ketinggian indra penciuman. Lantaran berasal dari luar tubuh, risiko terjadinya infeksi masih ada. Sebab, tubuh memiliki sistem penolakan jika ada benda asing yang masuk. Sementara itu, dengan teknik terbaru, risiko tersebut bisa dihilangkan.

Iswinarno mengungkapkan, memancungkan hidung dengan tulang sendiri lebih aman. Caranya memang lebih kompleks. Namun, hasilnya memuaskan. Menurut dokter alumnus FK UGM itu, hidung ditinggikan dengan melakukan irisan. "Lubang hidung kanan kiri dibuka, dinaikkan, dijahit," ucapnya.

Dokter berusia 50 tahun tersebut menambahkan, dengan open rhinoplasty, hasil hidung mancung lebih abadi. Artinya, tidak perlu dilepas lagi. Berbeda dengan implan silikon yang masih mungkin dikeluarkan. Misalnya, karena infeksi atau trauma benturan di hidung. Belum lagi, silikon bisa jebol atau keluar dari pucuk hidung jika pemasangannya tidak tepat. Hal itu bisa terjadi kalau kulit hidung tipis. Kemudian, pemasangan implan yang tidak tepat bisa membuat silikon berbentuk miring. 

Dengan open rhinoplasty, tinggi hidung bisa bertambah sampai 4 mm. "Kalau pakai tulang sendiri, tingginya memang terbatas. Irisannya juga lebih lebar, tapi lebih tahan daripada implan," jelasnya.
Iswinarno menambahkan, open rhinoplasty sebenarnya termasuk operasi kecil. Pasien bisa tidak dibius total. Lama operasi juga hanya sekitar satu jam. Namun, diperlukan keahlian khusus untuk melakukan operasi tersebut. Sebaiknya operasi dilakukan di rumah sakit dengan alat-alat bedah yang steril dan terjamin. "Setelah operasi, pasien bisa langsung beraktivitas" ucapnya. 

Sebelum tindakan, ketebalan hidung pasien diperiksa. Termasuk memeriksa bentuk tulang hidung. Sebab, tulang setiap manusia berbeda. Ada yang datar, maju, atau bahkan bengkok. Selanjutnya, setelah operasi, sebaiknya pasien menjaga kebersihan hidung. Misalnya, mencuci tangan sebelum memegang hidung. Kemudian, jika facial atau ada jerawat di hidung, jangan dipencet terlalu keras. 
Menurut Iswinarno, open rhinoplasty saat ini lebih booming di Korea dan Thailand. Padahal, tindakan itu sudah bisa dikerjakan di Surabaya. Dia mencontohkan di RSUD dr Soetomo.