Selasa, 05 Mei 2015

Pengulangan Kisah dalam Al-Quran


Al_Quran_by_durooob
Kalau diperhatikan dalam Al-Quran, ada beberapa peristiwa atau kejadian yang diceritakan dalam beberapa surah dengan redaksi berbeda-beda, padahal kejadiannya satu. Seperti, kisah tentang Nabi Musa dan Firaun, Kaum Aad, dan Nabi Ibrahim. Apakah hikmah di balik ini semua ?

Al-Quran adalah kalamullah, bukan perkataan makhluk. Adapun perkataan para makhluk yang disebutkan Al-Quran itu dari segi alur pemaknaannya saja. Sedangkan, lafaznya dari Allah SWT yang tengah mengisahkan tentang umat terdahulu atau peristiwa akan datang. Jadi, perkataan makhluk yang ada dalam Al-Quran itu hanya makna yang dinisbahkan kepada yang mengatakannya. Sedangkan, lafaznya bersumber dari Allah.

Pola kisah merupakan salah satu gaya bahasa Al-Quran. Selain itu, ada pula pola pengulangan suatu kisah atau penggambaran situasi yang hampir sama dalam beberapa surah. Setiap pengulangan tersebut, redaksi dan konteksnya berbeda. Ini akan membuka makna baru dengan manfaat yang berbeda, sehingga tidak akan membosankan. Ada sekitar 75 ayat dalam 25 surah kisah tentang Nabi Ibrahim. Hampir 2/3 isi Surah al-Baqarah adalah kisah tentang Musa, hingga sahabat Nabi sempat bertanya seakan-akan Al-Quran ini diturunkan untuk Musa.

Hanya kisah Nabi Yusuf yang diceritakan secara runut di dalam Surah Yusuf. Ada banyak hikmah di balik pengulangan kisah dalam berbagai surah Al-Quran. Para ulama menjelaskan, semua itu berfungsi agar kisah dan hikmahnya dapat dipahami secara gradual. Adanya perbedaan redaksi dan susunan kata tentang suatu peristiwa merupakan salah satu bentuk ketinggian bahasa dan sastra Al-Quran.

Para ahli tafsir dan Ulumul Quran menjelaskan manfaat lain dari pengulangan suatu peristiwa dalam Al-Quran dengan redaksi yang berbeda.  

Pertama, agar tidak membosankan pembacanya karena disajikan dengan bahasa dan ungkapan yang baru serta berbeda dengan ayat dalam surah lain.

Kedua, adanya unsur kesesuaian antara kasus yang dibahas Al-Quran dengan konteks saat dikisahkan. Di mana, kasus dan konteks yang sedang dibahas dalam surah itu mengharuskan penyebutan sisi yang belum disebutkan pada surah lain.

Ketiga, menambahkan beberapa aspek dalam kisah yang belum disebutkan dalam surah lainnya, sehingga kisah itu menjadi utuh sebagai suatu kisah.

Keempat, menunjukkan pentingnya kisah tersebut, sehingga perlu diulang-ulang dalam beberapa surah. Agar pembacanya dapat mengambil banyak petikan hikmah dan pelajaran dari kisah yang disebutkan, semua itu memperlihatkan Al-Quran yang begitu indah dan sempurna bahasa dan gaya bahasanya adalah wahyu dan kalam Allah. Al-Quran tidak mungkin dibuat seorang manusia yang ummi (tidak bisa tulis-baca). Wallahu a’lam bish-shawab