Rabu, 08 Juli 2015

Batu Bleneng misterius di Tol Cipali

Tol Cipali sudah resmi dibuka. Uji coba dilakukan sejak awal bulan Juni ini. Tol yang sudah diresmikan Presiden Jokowi ini sudah resmi dioperasikan sejak Jumat (26/6). Namun ada sesuatu yang lain yang menyeruak dari Tol Cipali ini. Tak lain, cerita legenda soal Batu Bleneng di Km 180. Batu berukuran besar ini tampak mencolok bila Anda melintas di Cipali. “Batu itu besar sekali, dan kelihatan banget,” jelas seorang pengguna Tol Cipali, Faya saat berbincang, Minggu (28/6/2015).

Faya menggambarkan, di lokasi itu terlihat bukit dipapas, sedang kanan kiri jalan tol dirapikan dengan dicor. Tapi batu itu berdiri tegak di pinggir seolah tak tersentuh. “Aneh juga sih itu semua sudah dicor, tapi ada batu gede seperti itu di situ. Kenapa nggak dihancurkan ya,” imbuh Faya bertanya-tanya.

Batu Bleneng di Tol Cipali

Bila Anda melintas dari arah Jakarta ke Palimanan batu itu ada di sebelah kanan, tapi bila dari arah Cirebon ke Jakarta batu itu ada di sebelah kiri. Batu itu letaknya masuk di daerah Cirebon. Bicara soal batu di Cipali itu, ada legenda di kalangan penduduk setempat. Konon katanya, percaya nggak percaya, batu itu tak bisa dipindahkan saat pembangunannya. Gambar batu bleneng itu pun sudah ramai beredar penampakannya.

Sudah diupayakan dibongkar tapi tak bisa. Entah alat yang terbatas atau mungkin saja, pihak pengelola sengaja menaruh batu itu sebagai hiasan jelang keluar gerbang tol Cipali. Batu itu menurut cerita penduduk setempat dikenal sebagai batu Bleneng. Ada yang bilang batu itu peninggalan orang zaman dahulu sengaja ditaruh di situ karena menutup mata air yang bisa membuat banjir kawasan itu.

Ada lagi yang cerita batu itu tempat orang zaman dahulu bersemedi. Dan banyak lagi cerita lainnya. Di tempat batu itu juga pernah dipakai syuting acara misteri sebuah televisi. Nah, persoalannya kini banyak yang mengaitkan urusan batu itu dengan urusan mistis dan aneh lainnya di Cipali. Lepas dari urusan soal mistis dan aneh lainnya, pastinya saat berkendara harus hati-hati. Siapkan kondisi, apalagi trek yang dilalui panjang dan jangan lupa berdoa.

Pengelola Tol Cipali Bicara Soal Batu Bleneng dan Kecelakaan

Ada-ada saja orang yang mengaitkan urusan kecelakaan di Tol Cipali dengan legenda Batu Bleneng. Dengan tegas pengelola Tol Cipali menepis urusan batu dikaitkan dengan kecelakaan. “Kecelakaan itu terjadi karena kondis fisik dan perilaku pengemudi. Itu kan kemarin kecelakaan karena pecah ban,” jelas Wakil Dirut PT Lintas Marga yang mengelola Tol Cipali, Hudaya Arianto, Senin (29/6/2015).
Batu besar yang tingginya dua meter lebih ini memang berdiri kokoh di pinggir tol. Pengguna tol akan melihatnya berada di sebelah kanan saat berkendara dari Jakarta ke Cirebon. Penduduk menyebutnya Batu Bleneng. Batu itu berada di Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Beberapa orang bahkan ada yang menaruh sesajen di pinggir batu.

Hudaya Arianto kembali menjelaskan, batu itu ada di lokasi sejak dahulu. Tidak ada pertimbangan apapun terkait keberadaan batu itu. “Itu nggak ada mistisnya. Ya memang di situ saja batunya, itu di kawasan Bukit Salam,” tutur Hudaya.

Sempat tersiar cerita kalau batu itu hendak dipindahkan, tetapi tak bisa dilakukan karena satu dan lain hal. Cerita itu kemudian dibantah Hudaya. “Kami juga nggak ada rencana mau memindahkan, karena memang batu itu ada di situ dan tidak mengganggu tol. Nggak tertabrak rute jalan,” tegas dia.

Kerap Ada yang Taruh Sesajen di Batu Bleneng di Pinggir Tol Cipali

Entah siapa orangnya, pastinya jangan ditiru. Di batu bleneng atau batu raksasa di pinggir Tol Cipali di Km 182, ada orang yang menaruh sesajen. Mulai dari bunga-bungaan sampai kendi berisi air. Tak diketahui persis apa maksud orang-orang itu menaruh benda yang disebut sesajen di batu bleneng. Ada yang mengaitkannya dengan legenda dan kepercayaan masyarakat soal batu bleneng.

Lokasi batu itu tepatnya masuk di wilayah Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Wilayah batu itu berada berada di sebuah bukit bernama Bukit Salam yang dipapras untuk dijadikan jalan tol. “Ada yang percaya kalau batu ini keramat,” terang Usep, seorang warga.
Batu ini berdiri kokoh. Di samping kanan dan kiri sudah dicor. Batu itu tingginya dua meter lebih. Konon kabarnya, batu itu sempah hendak dipindahkan pengelola tol tapi entah bagaimana tidak jadi dilakukan.