Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2016

Masjid di Suriname Ada Yang berkiblat ke Timur dan Barat


Pernah ke Suriname yang dihuni oleh orang keturunan Jawa ? Suriname adalah negara di Amerika Selatan bekas jajahan Belanda. Suriname merdeka dari Belanda pada 25 November 1975. Di Suriname sekitar 15% adalah warga keturunan Jawa. Orang-orang jawa ini dibawa dari Hindia Belanda (Indonesia) ke Suriname pada tahun 1890 – 1939 untuk dijadikan kuli kontrak.

Banyaknya orang keturunan jawa di Suriname menyebabkan tradisi dan adat istiadat Jawa juga banyak tersebar di sana. Tidak kecuali juga dengan Agama Islam. Jumlah penduduk yang beragama Islam di Suriname kurang lebih sampai 15%, di mana hampir sebagian besar pemeluknya adalah orang keturunan Jawa. 😘

Kamis, 19 Mei 2016

Misteri Buah Pauh Janggi (2)


Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel Misteri Buah Pauh Janggi (1). Tanaman misterius ini mempunyai buah yang besar dan tidak ada duanya di seluruh, dunia. Buah yang baru bisa dipetik kalau umur pohon sudah enam puluh tahun itu selain merangsang keinginan tahu kita, juga dapat dipakai sebagai obat perangsang seks dan mampu menetralisir racun.

Misteri Buah Pauh Janggi (1)


Tadi saya menjalani pengobatan dengan menggunakan bantuan media tempurung buah Pauh Janggi atau kelapa laut yang secara sains dikenal dengan nama Lodoicea maldivica. Pauh Janggi ini sering dikaitkan dengan Lagenda Pelayaran Melayu sejak turun temurun. Konon nenek moyang kita zaman dulu terkenal sebagai ahli pelayaran yang hebat dalam ilmu maritim dan sering belayar secara rutin ke wilayah dari Australia sampai ke Afrika.

Minggu, 15 Mei 2016

Asal Usul terbentuknya bahasa di dunia


Setiap kali kita ketemu orang asing di bandara, hotel sampe di pegunungan banyak dari kita heran kok bisa ya bahasa mereka beda banget sama kita ya ? ... Kenapa mereka ngomongnya kayak gitu? Kenapa begitu banyak bahasa di dunia ini!? Kenapa kita tidak memakai satu bahasa aja, misalnya bahasa Indonesia? 

Sabtu, 14 Mei 2016

Merasa terjatuh/tersandung menjelang terlelap tidur ?

Seringkali ketika kita menjelang  terlelap dalam tidur, kita tiba-tiba terbangun dan merasa seperti jatuh .  Apa yang terjadi? Apakah ini sebuah penyakit yang mengerikan? Fenomena ini ternyata cukup wajar terjadi dan biasa disebut sebagai hypnic jerk . Tapi kenapa kita bisa merasa seperti terjatuh saat tidur?

Senin, 02 Mei 2016

Sejarah Kerajaan/Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.


Sabtu, 08 Agustus 2015

Sejarah nama INDONESIA

Nama INDONESIA berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19. Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama, sementara orang Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan"). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Indonesia
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah(Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh namaKepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).

Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais). Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Pada 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur"), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris,George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain.

Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris): "... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Hal itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia): "Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro persdengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia")..

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia".

Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak.

Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)". Pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 melenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Asal usul nama hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu dan Minggu)

Mengapa ada orang yang percaya bahwa langit itu berlapis tujuh ? Ini ada kaitannya dengan tujuh benda langit yang memiliki jarak yang berbeda. Maksudnya benda yang lebih cepat bergeraknya dianggap lebih dekat jaraknya, lalu akan digambarkanlah seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda dan  mengelilingi bumi yang seolah berada di tengah.

Alam Semesta
Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak cepat sehingga dianggap paling dekat. Langit kedua ditempati Merkurius (bintang Utarid), Venus (bintang Kejora) berada di tempat ketiga. Kemudian Matahari di posisi empat, di langit kelima ada Mars (bintang Marikh), langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari) dan yang ketujuh ada Saturnus (bintang Ziarah) Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat semesta. 

Sabtu, 18 Juli 2015

Bendera setengah tiang

Bendera setengah tiang adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kegiatan pengibaran bendera yang di kibarkan di separuh tiang. Di banyak negara, hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, berkabung atau kemalangan. Tradisi mengibarkan bendera setengah tiang sudah dimulai pada abad ke-17. Hal ini dipercaya bisa membuat "bendera kematian yang tak terlihat" berkibar di puncak tiang yang menandakan kehadiran orang mati.

Bendera setengah tiang
Di beberapa negara, misalnya di Britania Raya, bendera kerajaan tidak pernah dikibarkan setengah tiang karena selalu ada raja/ratu yang akan menggantikan pendahulunya yang telah wafat. Ketika akan mengibarkan bendera setengah tiang, bendera tersebut harus digerek hingga mendekati finial (puncak tiang) untuk beberapa saat, kemudian baru diturunkan menjadi setengah tiang, begitu juga ketika hendak diturunkan, bendera tersebut harus dinaikkan mencapai puncak tiang dan kemudian baru diturunkan separuhnya.

Bendera setengah tiang di Indonesia

Bendera Indonesia dikibarkan setengah tiang saat peristiwa-peristiwa berikut:
  • Pada tanggal 10 November, untuk memperingati gugurnya pahlawan Indonesia dalam Pertempuran Surabaya pada masa Perang Kemerdekaan
  • Setelah tsunami dan gempa bumi Samudera Hindia 2004 di Aceh
  • Setelah kematian mantan presiden, misalnya: bendera setengah tiang dikibarkan selama seminggu setelah kematian Presiden Soekarno, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid,
  • Pada hari berkabung nasional lainnya. Pada masa Presiden Soeharto bendera setengah tiang juga dikibarkan untuk mengenang peristiwa Gerakan 30 September 1965, namun setelah Soeharto lengser tidak dilakukan lagi di Indonesia.

Jumat, 27 Maret 2015

Kantong Imut di Celana Jeans

Disadari atau tidak, ternyata celana jeans dari merek yang satu dengan merek yang lain punya satu kesamaan Boys and Girls, yaitu punya kantong imut yang letaknya di sisi dalam kantong depan. Pernah nggak berpikir apa fungsi kantong imut yang ada di setiap celana jeans?
Nah, Ternyata fungsi kantong imut didepan itu ada kaitannya dengan sejarah penemuan celana jeans itu sendiri.

Jadi, pada tahun 1850-an silam, di California, Amerika Serikat dilanda demam emas, sehingga nggak sedikit kaum imigran dari berbagai bangsa di Eropa, Cina maupun Afrika yang mencoba mengadu nasib buat mencari emas disana. Salah satu imigran itu adalah seorang warga Jerman berusia 24 tahun, Levi Strauss.

Celana Jeans Berbahan Kanvas


Disaat yang lain lagi asyik berburu emas, dipikiran Strauss malah punya keinginan untuk membuat pakaian yang terbuat dari bahan yang kuat untuk para pria-pria pemburu emas itu.

Awalnya dia membuat celana berbahan kanvas untuk tenda, tapi belakangan Strauss menggunakan bahan dari Genoa-Italia, yang di namai bleu de Genes yang kemudian sampai sekarang akrab disebut blue jeans.

Celana itu memang terbukti sangat kuat dan awet. Selain karena bahannya, celana tersebut terbilang kuat karena memakai semacam paku yang saat ini masih terdapat pada semua celana jeans model klasik.

Menyimpan Butiran Emas


Strauss dan temannya Jacob Davis kemudian melengkapi celana ciptaannya dengan semacam kantung imut yang berada diatas kantong depan, yang gunanya adalah untuk menyimpan butiran-butiran emas yang mungkin ditemukan oleh para pemburu emas. Berada di sebelah kanan untuk mempermudah mereka menaruh emas itu.

Lebih lanjut, setelah ratusan tahun dari penemuan pertama celana jeans, para pabrikan celana jeans sampai saat ini masih tetap mempertahankan kantong imut tersebut, walaupun emang saat ini fungsinya bukan lagi buat menyimpan butiran emas lagi.

Jumat, 20 Maret 2015

Asal usul Deja Vu


Ada yang pernah pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu ?

Deja Vu adalah sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton.

Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.

Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau.

Bagaimana penjelasan ilmu psikologi ?


Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif

Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.

Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.

Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki <a>dentate gyrus</a>, sebuah bagian kecil dari <a>hippocampus</a>, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti <a>Alzheimer</a>: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.

Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium
Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.

Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.

Rabu, 18 Maret 2015

Asal Usul Kata Halo

Halo adalah salam atau ucapan dalam bahasa Inggris. Hal ini dibuktikan secara tertulis pada awal tahun 1830-an

Etimologi
Menurut Kamus Oxford Bahasa Inggris, halo merupakan perubahan dari hallo, sapaan, yang berasal dari Old German ""halâ, holâ, emphatic imperative of halôn, holôn untuk mengambil, khususnya dalam memanggil suatu tukang perahu ".Ini juga menghubungkan pengaruh bentuk halo sebelumnya, holla, yang berasal dari Perancis Hola (kira-kira, 'whoa there!', dari Perancis là 'there')).Seperti tadi hello, hallo and hollo, hullo dan (agak jarang) hillo juga ada sebagai varian atau sebagai kata-kata yang terkait, kata bisa dieja menggunakan salah satu dari kelima huruf hidup.

Penggunaan dalam Telepon Penggunaan halo sebagai telepon ucapan telah dikreditkan ke Thomas Edison. menurut satu sumber, ia menyatakan terkejut dengan salah dengar Halo Alexander Graham Bell awalnya mengggunakan Ahoy (seperti yang digunakan pada kapal) sebagai salam pada telepon.Namun, pada tahun 1877, Edison menulis surat kepada TBA David, presiden Distrik Tengah dan Percetakan Telegraph Company of Pittsburgh Teman David, saya tidak berpikir kita akan membutuhkan bel panggilan sebagai Hello! dapat didengar 10 sampai 20 meter jauhnya.

Apa yang Anda pikirkan? Edison - P.S. biaya pertama pengirim & penerima untuk memproduksi hanya $ 7,00.



Kata Halo dalam Berbagai bahasa :
Afrikaans =>hallo
Albanian => alo
Arabic => آلو ālō
Bulgarian => ало (alo)
Catalan => hola!
Croatian => halo?
Danish => hallo!
Dutch => hallo!
Esperanto => ha lo?
Estonian => hallo; halloo
Finnish => haloo?
French => allô?
German => Hallo!
Gujarati => hello
Hungarian => helló!
Hebrew => הָלוֹ (hallo)
North Indians => Haanjee!
Icelandic => Halló
Irish => Heileo
Japanese => ハロー (harō)
Kannada => halloa
Lithuanian => alio?
Macedonian => ало (alo)
Marathi => hello
New Zealand => Kia ora
Norwegian => hallo!
Persian => الو alo
Polish => halo
Portuguese => alô?
Romanian => alo
Russian => алло (allo), алё
Serbian => хало/halo
Spanish => ¡hola!
Swedish => hallå!
Tagalog => helo!
Turkish => alo!
Vietnamese => a lô!

Kata Halo dalam Berbagai bahasa :
Afrikaans =>hallo   
Albanian     => alo   
Arabic     => آلو ālō
Bengali     => হ্যালো hêlo
Bulgarian => ало (alo)
Catalan     => hola!   
Croatian     => halo?   
Danish    => hallo!   
Dutch => hallo!   
Esperanto => ha lo?   
Estonian => hallo; halloo   
Finnish => haloo?   
French     => allô?   
German     => Hallo!   
Gujarati     => hello
Hungarian => helló!
Hebrew =>    הָלוֹ (hallo)   
North Indians => Haanjee!
Icelandic => Halló   
Irish => Heileo   
Japanese => ハロー (harō)
Kannada => halloa
Lithuanian => alio?
Macedonian => ало (alo)
Marathi     => hello
New Zealand => Kia ora
Norwegian => hallo!
Persian =>الو alo
Polish    => halo
Portuguese => alô?
Romanian => alo
Russian => алло (allo), алё
Serbian => хало/halo
Spanish    => ¡hola!
Swedish => hallå!   
Tagalog => helo!   
Turkish    => alo!
Vietnamese => a lô! - See more at: http://makassaronline.blogspot.com/2012/03/asal-usul-kata-halo.html#sthash.9t67UEsi.dpuf