Senin, 06 Juni 2016

Masjid di Suriname Ada Yang berkiblat ke Timur dan Barat


Pernah ke Suriname yang dihuni oleh orang keturunan Jawa ? Suriname adalah negara di Amerika Selatan bekas jajahan Belanda. Suriname merdeka dari Belanda pada 25 November 1975. Di Suriname sekitar 15% adalah warga keturunan Jawa. Orang-orang jawa ini dibawa dari Hindia Belanda (Indonesia) ke Suriname pada tahun 1890 – 1939 untuk dijadikan kuli kontrak.

Banyaknya orang keturunan jawa di Suriname menyebabkan tradisi dan adat istiadat Jawa juga banyak tersebar di sana. Tidak kecuali juga dengan Agama Islam. Jumlah penduduk yang beragama Islam di Suriname kurang lebih sampai 15%, di mana hampir sebagian besar pemeluknya adalah orang keturunan Jawa.


Keunikan dari pemeluk agama Islam di Suriname adalah tempat ibadah mereka yaitu Masjid yang mempunya dua arah kiblat yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Seperti diketahui bahwa Suriname secara geografis letaknya berada di sebelah barat Mekah, Arab Saudi. Sedangkan Indonesia sendiri secara geografis berada disebelah timur kota Mekah di mana bangunan Ka’bah sebagai kiblat umat islam ada di dalamnya.

Dalam menjalankan sholat orang Islam diwajibkan untuk menghadap kiblat, yaitu menghadap Ka’bah. Umat Islam Indonesia dalam menentukan arah kiblat secara umum adalah dengan menghadap ke arah barat. Inilah penyebab sebagian umat meyakininya bahwa arah kiblat adalah barat.

Sehingga pada jaman dahulu orang Jawa yang beragama Islam banyak di dibawa ke Suriname untuk dijadikan kuli kontrak dan akhirnya turun temurun jadi warga negara Suriname. Sebagai orang Islam Jawa, mereka membawa keyakinannya itu sampai ke Suriname, demikian juga dalam hal menentukan arah kiblat.

Banyak Masjid di Suriname yang dibangun oleh umat islam keturunan jawa ini, yang masih mengikuti tradisi leluhur orang jawa, dengan menentukan arah kiblatnya ke arah Barat. Mereka masih meyakini bahwa arah kiblat waktu sholat adalah kea rah Barat sebagaimana yang leluhur mereka lakukan di Indonesia.


Mereka yang berkiblat ke arah timur berpendapat bahwa secara geografis, Suriname ada jauh di sebelah barat kota Mekah atau Arab Saudi. Maka seharusnya umat Islam di sana kiblatnya menghadap ke arah timur. Sementara mereka yang berkiblat ke barat berpendapat bahwa ajaran Islam yang mereka warisi dari leluhurnya mengajarkan dengan jelas bahwa sholat itu menghadap ke barat.

Mereka yang berkiblat ke barat ini adalah keturunan Jawa. Mereka di bawa ke Suriname oleh Belanda dan akhirnya menetap di sana. Umat Islam di Jawa memang sholat menghadap ke barat, karena Mekah ada di sebalah barat Pulau Jawa atau Indonesia.

Konflik terkait perbedaan pendapat ini sempat terjadi. Terjadi polarisasi dua kelompok umat Islam di sana karena perbedaan ini. Namun ada juga yang kemudian memilih menghormati pilihan atau keyakinan masing-masing kelompok mengenai kiblat itu.

Dari apa yang terjadi di Suriname itu, bisa kita jadikan pelajaran. Pelajaran ini bisa kita kaitkan relevansinya dengan perbedaan yang sering juga muncul di umat Islam Indonesia. Misalnya saja beda penentuan awal ramadan (1 Ramadan) dan lebaran (1 Syawal).


Tentu saja kasus beda kiblat di Suriname dan beda awal puasa dan lebaran di Indonesia adalah dua hal yang berbeda. Kasus kiblat Suriname jelas bahwa seharusnya, memakai dalil Islam apapun, kiblat menghadap timur lah yang benar. Karena kiblat harus menghadap Masjidil Haram di Mekah.


Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya pengetahuan tentang agama Islam terutama tentang menentukan arah sholat, kaum muda Islam Suriname pelan-pelan merubah pandangan yang meyakini sholat itu menghadap ke Barat, dengan cara merubah/ membangun tempat ibadah baru dengan arah kiblat yang benar yaitu mengarah ke Ka’bah (kota Mekah) yang kebetulan di Suriname menghadap ke Timur.

Secara perlahan mereka mencoba merubah pandangan kaum tua untuk mengarahkan arah sholatnya ke timur. Upaya ini menunjukkan keberhasilannya tapi masih belum bisa semuanya. Sampai saat ini masih banyak ditemui banyak masjid yang arah kiblatnya masih menghadap ke arah Barat.


Sementara kasus perbedaan awal puasa dan lebaran di Indonesia, tidak sesederhana itu mencari kebenarannya. Masing-masing kelompok yang berbeda memiliki argumen dan dalil pendukung yang tampaknya sama-sama kuat. Saya tidak akan membahas ini karena tidak memiliki kapasitas untuk itu.

Lalu apa yang bisa kita ambil pelajaran dari Suriname?

Yang bisa kita jadikan pelajaran dari kasus Suriname adalah: pertama, bahwa tidak semua keyakinan itu benar. Seperti kasus kiblat di Suriname, kita tahu tidak mungkin ada dua kiblat yang benar. Hanya satu kiblat yang benar dan kita tahu itu yang menghadap timur.

Demikian pula dengan perbedaan awal puasa dan lebaran. Tidak mungkin semua benar. Yang benar pasti hanya satu. Sebab tidak mungkin ada dua tanggal satu. Baik 1 Ramadan maupun 1 Syawal.

Pelajaran kedua, keyakinan seseorang atau kelompok susah diubah. Apalagi jika sudah diyakini turun temurun. Seperti apa yang diyakini penganut kiblat barat di sana.

Meskipun dihadirkan argumen dan bukti geografis bahwa seharusnya Suriname berkiblat ke timur, mereka yang berkiblat ke barat tetap yakin dengan apa yang diyakininya. Hal yang sama juga terjadi dengan kelompok yang selalu berseberangan atau berbeda mengenai penetapan awal puasa dan lebaran di Indonesia.

Sebut saja NU dan Muhammadiyah. Masing-masing ormas ini memiliki metode yang berbeda dalam penetapannya. Maka agak sulit dicari titik temunya. Meminjam pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, NU lebih kepada “seeing is believing” sedangkan Muhammadiyah “knowing is believing”. Kedua metode ini sama-sama diklaim ditopang oleh dalil yang sama kuat.

Baik di Suriname dan Indonesia, ada upaya yang mencoba menyatukan perbedaan itu. Di Suriname upaya itu gagal, atau belum berhasil. Padahal sudah jelas mana yang benar. Namun inilah keyakinan. Sekali lagi sebuah keyakinan yang sudah diyakini, apalagi turun temurun, sulit sekali diubah.

Maka soal tanggal satu ini tampaknya antara berbagai kelompok umat Islam di Indonesia juga akan terus berbeda. Sebab masing-masing yang berbeda, baik NU, Muhammadiyah, Naqsyabandiah, dan lain sebagainya akan tetap yakin dengan metode dan keyakinannya masing-masing.

Memang, mengetahui mana metode yang benar terkait penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal ini tidak semudah mengetahui kiblat mana yang benar di antara dua kiblat di Suriname. Tapi meski tidak mudah, hal ini juga tidak mustahil. Tidak mustahil, jika suatu saat ditemukan metode atau teknologi yang kemudian terang benderang dan disepakati semua kelompok.

Seperti kasus kiblat di Suriname, kita tahu kiblat ke timur lah yang benar karena sekarang ada teknologi pemetaan. Ada peta yang bahkan mudah dipahami oleh orang awam yang membuktikan bahwa ke timur lah seharusnya kiblat Suriname. Sebelum ada itu, saya yakin orang masih berpaku pada keyakinannya ke mana arah kiblat sesungguhnya.

Atau mungkin saja suatu saat bisa saja di kalangan umat Islam Indonesia muncul seorang pemersatu seperti Paus Gregorius. Paus dengan tanggalan gregoriannya ini berhasil menyatukan natal yang awalnya berbeda, menjadi seragam pada tiap tanggal 25 Desember.

Tapi kembali ke pelajaran Suriname, keyakinan biasanya tidak akan tergoyahkan. Meski yang meyakini ini hanya minoritas dan terhimpit keyakinan mayoritas yang memiliki bukti dan dalil lebih kuat. Buktinya masih ada yang yakin kiblat Suriname ke barat. Atau di kasus Paus Gregorius, juga masih ada sebagian umat kristiani yang natalan tidak pada 25 Desember.

Manusia memang tampaknya ditakdirkan biasa berbeda. Upaya penyeragaman tampaknya selalu sia-sia. Maka hal terbaik yang biasa kita lakukan adalah memahami dan menerima perbedaan yang ada itu dengan toleransi dan saling menghargai keyakinan masing-masing. Tidak ada gunanya memaksakan keyakinan kita, karena terbukti keyakinan tidak bisa dipaksakan.

Jadi silahkan beribadah sesuai dengan keyakinan anda masing-masing. Apalagi konstitusi kita juga menjamin dan melindungi hal ini.

Bagi orang Jawa kalau kelak ada yang menengok saudaranya di Suriname jangan bingung dengan fenomena ini ya ..